Kesimpulan dan Saran

Smiley face
Click Here to Download

Tracer Study UNPAR tahun 2017 merupakan tracer study kedua di tingkat universitas yang memotret kondisi umum lulusan UNPAR angkatan 2010. Sesuai tujuannya, tracer study ini telah menangkap beberapa poin informasi mengenai kondisi lulusan UNPAR angkatan 2010 yang dapat dijadikan masukan bagi pengembangan/perbaikan UNPAR ke depan.

Berdasarkan proses survei terhadap target responden sebanyak 1912 orang lulusan angkatan 2010, tercatat bahwa terdapat 603 orang angkatan 2010 yang mengisi kuesioner tracer study atau dengan kata lain Gross Response Rate dari survei yang dilakukan adalah sebesar 32%. Angka response rate ini tentunya cukup baik dan akan terus ditingkatkan di tracer study tahun-tahun berikutnya.

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, dapat dinilai bahwa lulusan-lulusan UNPAR merupakan lulusan yang banyak diminati oleh para penyedia lapangan pekerjaan sehingga pada umumnya tidak sulit bagi lulusan UNPAR untuk mendapat pekerjaan setelah lulus. Dari hasil pengolahan data, diketahui bahwa terdapat 25% lulusan UNPAR yang sudah mendapatkan pekerjaan sebelum lulus yang mana rata-rata para lulusan tersebut sudah mendapatkan pekerjaan di 4.32 bulan sebelum kelulusannya. Sementara itu, sebanyak 75% responden lulusan UNPAR lainnya mendapatkan pekerjaan setelah lulus dengan rataan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan adalah 4.17 bulan.

Pada saat ini, sebanyak 67% lulusan UNPAR yang terjaring berstatus bekerja pada perusahaan/institusi milik orang lain, sementara sisanya sebesar 14% dan 19% berturut-turut berwirausaha dan tidak bekerja (melanjutkan studi). Adapun lulusan yang saat ini bekerja sebagian besar bekerja pada perusahaan berskala nasional yaitu sebesar 44%, sedangkan yang lain bekerja pada perusahaan berskala multinasional sebanyak 26% dan sisanya (30%) pada skala lokal. Mayoritas jenis perusahaan tempat para lulusan ini bekerja adalah perusahaan/institusi milik swasta. Posisi yang diduduki saat ini oleh para alumni adalah 68% sebagai staf, 8% sebagai manajer, 8% sebagai kepala bagian atau sederajat, dan 2% masih berstatus magang.

Lulusan-lulusan yang menjadi responden dalam tracer study ini sebagian besar (73%) menilai bahwa pekerjaan yang dijalaninya sekarang memiliki keeratan yang “Cukup Erat” hingga “Sangat Erat” dengan pendidikannya di UNPAR. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi-kompetensi yang telah dibangun selama masa pendidikan di UNPAR, khususnya di program studi terkait, seharusnya sangat bermanfaat dalam pekerjaan para lulusan saat ini. Di antara para lulusan UNPAR, terdapat juga sebagian kecil lulusan (27%) yang menilai bahwa pekerjaannya saat ini “Kurang Erat” atau bahkan “Tidak Berkaitan” dengan pendidikannya. Sebagian responden ini memilih pekerjaan tersebut karena beberapa alasan, dimana 5 alasan terbanyak adalah karena belum mendapat pekerjaan yang lebih sesuai, adanya prospek karir yang baik di pekerjaan saat ini, pekerjaan saat ini lebih menarik, memang, terpaksa menerima pekerjaan yang tidak sesuai di awal meniti karir, serta perolehan pendapatan yang lebih tinggi di pekerjaan saat ini.

Dalam tracer study ini terdapat juga penilaian terhadap 29 kompetensi yang penting dimiliki para lulusan. Keduapuluh sembilan kompetensi ini mencakup pengetahuan yang diperoleh dari perkuliahan dan juga kemampuan pendukung lainnya. Dari hasil penilaian terlihat bahwa penguasaan sebagai besar lulusan UNPAR terhadap keduapuluh sembilan kompetensi ini ketika lulus S1 adalah pada tingkat “Sedang” dan “Sangat Besar”. Sedikit sekali responden yang menilai penguasaannya pada tingkat “Kecil” atau “Sangat Kecil”. Aspek lain yang dinilai dari keduapuluh sembilan kompetensi ini adalah seberapa besar kontribusi universitas dalam membangun kompetensi-kompetensi tersebut.

Berdasarkan hasil survei, diketahui 5 kompetensi dengan kontribusi UNPAR yang terbesar adalah pada kompetensi pengetahuan terkait bidang ilmu, bekerja dalam tim, bekerja dengan orang yang berbeda budaya/latar belakang, serta kemampuan adaptasi, analisis, dan toleransi yang menduduki peringkat yang sama. Sementara itu 5 peringkat kontribusi UNPAR yang terendah adalah pada kompetensi keterampilan internet, Bahasa Inggris, keterampilan komputer, pengetahuan umum, serta pengetahuan di luar bidang studi dan negosiasi yang menduduki peringkat yang sama. Yang dimaksud terkecil di sini bukan berarti kontribusi universitas sangat kurang/buruk, namun berdasarkan hasil survei, kontribusi universitas terhadap kompetensi-kompetensi tersebut memang lebih kecil dibandingkan keduapuluh empat kompetensi lainnya. Walaupun kemampuan lulusan dan kontribusi universitas terhadap keduapuluh sembilan poin kompetensi dapat dikatakan cukup baik, namun masih terdapat banyak peluang perbaikan dan peningkatan yang dapat dilakukan sehingga lulusan-lulusan yang dihasilkan lebih bermutu.

Adapun saran-saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil dan proses tracer study yang telah dilakukan antara lain:

  1. Hendaknya hasil tracer study ini menjadi masukan dan menghasilkan perbaikan yang nyata dalam rangka menghasilkan lulusan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  2. Proses tracer study ke depan hendaknya dapat menggunakan kuesioner yang lebih sederhana sehingga dapat meningkatkan response rate dan kualitas respon yang diberikan.
  3. Tim surveyor tracer study di tahun-tahun berikutnya hendaknya melibatkan staf dari berbagai program studi dan unit serta perwakilan alumni dari angkatan terkait sehingga survei yang dilakukan lebih efektif dan efisien.
  4. Seiring berjalanannya tracer study di tahun-tahun ke depan maka dapat dibuat sebuah aplikasi mobile sebagai alternatif media pengumpulan data tracer study dari para alumni sebagai responden.